Bayangkan sarapan dengan semangkuk sup ikan segar di warung pinggir pantai Makassar, lalu menyadari bahwa ikan yang ada di mangkuk itu mungkin adalah salah satu yang terakhir dari jenisnya di perairan sekitar sana.
Itulah gambaran yang pelan-pelan mulai terasa nyata bagi jutaan orang Indonesia yang hidupnya berputar di sekitar laut, mulai dari nelayan kecil di Maluku hingga pedagang ikan di Pasar Muara Baru Jakarta yang setiap hari bergumul dengan fluktuasi harga yang semakin tidak menentu.
Data dari Badan Pusat Statistik yang dihimpun sepanjang lima tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen wilayah tangkapan ikan tradisional Indonesia mengalami penurunan hasil tangkap yang signifikan akibat kombinasi penangkapan berlebihan, kerusakan terumbu karang, dan perubahan suhu air laut yang semakin ekstrem.
Indonesia memang dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang luar biasa, tetapi kekayaan itu selama beberapa dekade diperlakukan seperti tabungan yang bisa terus diambil tanpa pernah diisi ulang.
Ketika Anak Muda Turun ke Laut dengan Cara Berbeda
Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, seorang pemuda bernama Ridwan Laode, 28 tahun, memilih pulang kampung setelah dua tahun bekerja di sebuah perusahaan logistik di Surabaya, membawa serta gagasan tentang cara menangkap ikan yang ia pelajari dari komunitas nelayan Jepang melalui forum daring.
Ridwan tidak langsung disambut hangat oleh nelayan senior di kampungnya, karena bagi mereka, cara menangkap ikan sudah diwariskan turun-temurun dan tidak butuh campur tangan orang yang baru saja balik dari kota dengan kepala penuh teori.
Namun tiga tahun kemudian, kelompok nelayan yang Ridwan bentuk bersama delapan pemuda lainnya kini menjadi salah satu kelompok pertama di wilayah itu yang menerapkan sistem rotasi zona tangkap, yaitu praktik membagi wilayah laut menjadi beberapa petak dan hanya menangkap ikan di satu petak dalam kurun waktu tertentu agar ikan di petak lain punya waktu untuk berkembang biak.
Hasilnya bukan sesuatu yang datang dalam semalam, karena pada enam bulan pertama pendapatan mereka bahkan sempat turun hampir 20 persen dibanding metode lama, dan godaan untuk kembali ke cara konvensional terasa sangat besar ketika uang untuk membeli solar perahu mulai menipis.
Perikanan Berkelanjutan Bukan Sekadar Jargon Lingkungan
Istilah “perikanan berkelanjutan” memang kerap terdengar seperti jargon yang hanya beredar di seminar-seminar bertabur spanduk dan kopi kotak, namun bagi komunitas pesisir yang hidupnya bergantung langsung pada kondisi laut, konsep ini punya arti yang sangat konkret dan personal.
Secara sederhana, perikanan berkelanjutan berarti menangkap ikan dengan cara dan jumlah yang tidak melampaui kemampuan populasi ikan untuk pulih secara alami, sehingga generasi berikutnya masih bisa menikmati sumber daya yang sama tanpa harus memulai dari nol.
Di Lombok Utara, praktik serupa dilakukan oleh komunitas perempuan nelayan yang memanfaatkan sistem “awig-awig”, yaitu aturan adat lokal yang mengatur kapan dan di mana boleh menangkap ikan, dan sistem ini ternyata sudah berjalan jauh sebelum istilah keberlanjutan populer di kalangan aktivis lingkungan internasional.
Kearifan lokal seperti ini adalah bukti bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal pengetahuan untuk mengelola laut dengan lebih bijak, hanya saja praktik-praktik itu seringkali terpinggirkan ketika kebijakan perikanan nasional lebih berpihak pada skala industri besar yang mengutamakan volume tangkapan dalam jangka pendek.
Konsumen Juga Punya Peran yang Tidak Kecil
Siklus kerusakan laut tidak hanya dimulai dari jaring nelayan, melainkan juga dari keputusan kecil yang dibuat setiap hari oleh jutaan konsumen di daratan yang seringkali tidak mengetahui dari mana ikan di piring mereka berasal atau dengan cara apa ikan itu ditangkap.
Restoran seafood di Jakarta, Bali, dan kota-kota besar lainnya mulai merasakan tekanan dari konsumen yang lebih sadar dan mulai mengajukan pertanyaan tentang asal-usul ikan, umur tangkap, dan apakah alat yang digunakan nelayan pemasok mereka sudah memenuhi standar yang tidak merusak dasar laut.
Gerakan “pilih ikan lokal musiman” yang mulai ramai di berbagai komunitas kuliner urban Indonesia sebenarnya bukan tren baru, karena para ibu di pasar tradisional sudah lama tahu bahwa ikan tertentu hanya enak dan berlimpah di bulan-bulan tertentu, dan itu adalah bentuk kearifan konsumsi yang sederhana tapi berdampak nyata.
Ketika seseorang di Bandung memilih membeli ikan tongkol segar dari nelayan Palabuhan Ratu alih-alih udang impor yang tidak jelas asal-usulnya, keputusan itu mungkin tampak sepele, namun dalam skala yang lebih besar keputusan seperti itulah yang menentukan apakah industri perikanan nasional akan bergerak ke arah yang lebih sehat atau terus terperosok ke dalam pola yang merusak.
Teknologi Masuk Laut, Tapi Bukan untuk Mempercanggih Eksploitasi
Beberapa kelompok nelayan muda di Banda Aceh dan Bitung kini mulai menggunakan aplikasi sederhana di ponsel mereka untuk mencatat lokasi tangkap, jenis ikan, dan jumlah hasil setiap hari, sehingga data itu bisa digunakan untuk memantau tren populasi ikan di wilayah mereka secara mandiri tanpa harus menunggu laporan dari dinas perikanan setempat yang seringkali terlambat sampai ke tangan mereka.
Teknologi bukan juru selamat tunggal dalam cerita ini, karena alat-alat canggih sekalipun tidak akan berguna jika nelayan yang menggunakannya tidak memiliki motivasi dan pemahaman yang cukup tentang mengapa data itu penting untuk dikumpulkan dan bagaimana cara membacanya dengan benar.
Yang lebih menarik dari penggunaan teknologi sederhana ini adalah bagaimana ia mendorong percakapan antar nelayan yang sebelumnya jarang terjadi, karena ketika data mulai bicara dengan jelas tentang penurunan jumlah ikan di satu zona, diskusi tentang perubahan perilaku tangkap menjadi lebih mudah dimulai tanpa harus ada yang merasa dituduh atau disalahkan.
Laut yang Masih Bisa Diselamatkan
Ridwan Laode kini mengajarkan sistem rotasi zona tangkap kepada tiga kelompok nelayan muda di pulau-pulau tetangga Wakatobi, dan ia melakukannya bukan dengan cara ceramah atau seminar formal, melainkan dengan mengajak mereka langsung turun ke laut bersama dan melihat sendiri perbedaan kondisi terumbu karang di zona yang dijaga dan zona yang tidak.
Laut Indonesia belum sepenuhnya kehilangan kemampuannya untuk pulih, karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa kawasan laut yang dikelola dengan prinsip keberlanjutan selama lima hingga sepuluh tahun bisa menunjukkan pemulihan populasi ikan yang signifikan dan bahkan melebihi kondisi awalnya sebelum eksploitasi berlebihan terjadi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah laut kita bisa diselamatkan, melainkan seberapa banyak orang—nelayan, konsumen, pengambil kebijakan, dan semua yang menikmati ikan goreng di meja makan mereka setiap minggu—yang bersedia mengubah satu atau dua kebiasaan kecil sebelum perubahan itu tidak lagi jadi pilihan melainkan keharusan yang terlambat.











Komentar