Pak Suryo, petani padi berusia 58 tahun dari Klaten, Jawa Tengah, menanam benih di bulan yang sama seperti yang dilakukan ayahnya empat puluh tahun lalu — dan hasilnya kini jauh berbeda dari yang ia harapkan.
Sawah yang dulu bisa diandalkan menghasilkan panen dua kali setahun kini sering gagal di musim pertama karena hujan datang terlambat sebulan penuh, membuat bibit yang sudah ditanam mengering sebelum sempat berakar kuat.
Cerita Pak Suryo bukan pengecualian, melainkan gambaran nyata dari jutaan keluarga petani Indonesia yang kini harus bergulat dengan kalender alam yang tampaknya sudah tidak lagi beroperasi dengan ritme yang mereka kenal sejak kecil.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat bahwa pola curah hujan di Indonesia bergeser secara signifikan dalam dua dekade terakhir, dengan musim kemarau yang kian panjang di beberapa wilayah sementara wilayah lain justru kebanjiran di bulan-bulan yang seharusnya kering.
Pergeseran ini bukan sekadar soal cuaca yang berubah-ubah, karena di baliknya ada mekanisme iklim global yang jauh lebih besar, yaitu peningkatan suhu rata-rata bumi akibat emisi gas rumah kaca yang terus menumpuk di atmosfer selama lebih dari satu abad industrialisasi manusia.
Panas yang Kita Ciptakan Sendiri
Suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri, dan angka itu terdengar kecil sampai kamu menyadari bahwa perbedaan suhu sekecil itu cukup untuk mencairkan lapisan es di kutub dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia.
Es yang mencair itu mengalir ke lautan, menaikkan permukaan air laut secara perlahan namun pasti, dan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan kilometer garis pantai, kenaikan itu bukan ancaman masa depan yang abstrak melainkan realitas yang sudah mulai dirasakan di kampung-kampung pesisir Kalimantan dan Sulawesi.
Di Jakarta, rob atau banjir air laut yang masuk ke daratan sudah menjadi pemandangan musiman yang akrab bagi warga Penjaringan dan Pluit, dua kawasan yang kini semakin sering terendam bahkan ketika langit di atas mereka cerah tanpa satu pun awan hujan yang terlihat.
Sementara itu, warga pegunungan di Nusa Tenggara Timur menghadapi masalah yang sepenuhnya berbeda, yakni kekeringan panjang yang membuat sumber mata air desa mengering lebih cepat dari sebelumnya, memaksa perempuan dan anak-anak berjalan lebih jauh setiap harinya hanya untuk mendapatkan air bersih yang cukup untuk memasak.
Tubuh Kita Juga Merasakannya
Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada ladang dan pesisir, tetapi juga menyusup masuk ke dalam rumah tangga melalui lonjakan tagihan listrik, perubahan ketersediaan bahan pangan, dan bahkan kesehatan fisik yang kita rasakan langsung pada tubuh kita masing-masing.
Gelombang panas yang semakin sering melanda kota-kota besar Indonesia membuat banyak orang, terutama lansia dan anak-anak, rentan terhadap dehidrasi dan kelelahan panas yang dalam kondisi ekstrem bisa berkembang menjadi kondisi medis darurat yang memerlukan penanganan segera.
Demam berdarah dengue, yang selama ini sudah menjadi penyakit endemik di banyak wilayah Indonesia, kini menyebar lebih luas dan lebih lama karena nyamuk Aedes aegypti mendapat musim kawin yang lebih panjang seiring suhu yang lebih hangat sepanjang tahun di daerah-daerah yang dulu cukup dingin untuk membatasi populasinya.
Harga cabai yang melonjak di pasar setiap kali musim kemarau panjang melanda Jawa adalah salah satu cara paling nyata bagi kebanyakan orang Indonesia untuk merasakan efek iklim global dalam kantong dan dapur mereka setiap bulannya.
Apa yang Mulai Dilakukan Orang
Menariknya, di tengah tekanan yang semakin berat ini, banyak komunitas Indonesia justru merespons dengan kreativitas yang patut dicermati, mulai dari para petani muda di Sulawesi Selatan yang beralih ke varietas padi tahan kering, hingga nelayan di Lombok yang mengatur jadwal melaut berdasarkan aplikasi cuaca berbasis satelit di ponsel mereka.
Di perkotaan, gerakan urban farming atau bercocok tanam di atap gedung dan balkon apartemen semakin populer bukan hanya sebagai hobi, tetapi sebagai respons nyata terhadap kekhawatiran soal ketahanan pangan ketika harga sayuran di pasar berfluktuasi tajam akibat gagal panen di sentra produksi.
Sejumlah kepala daerah di Indonesia juga mulai memasukkan adaptasi iklim ke dalam rencana pembangunan kota mereka, misalnya dengan memperluas ruang terbuka hijau, membangun sistem drainase yang lebih mampu menampung curah hujan ekstrem, dan membatasi pembangunan di daerah-daerah yang rentan banjir rob.
Langkah-langkah itu terasa seperti menambal perahu yang bocor di bagian bawah sementara air terus mengalir masuk, karena tanpa pengurangan emisi karbon secara global yang signifikan dan cepat, semua adaptasi lokal itu hanya akan mampu memperlambat dampak, bukan menghentikannya.
Bukan Soal Masa Depan, Tapi Sekarang
Ada kecenderungan dalam diri banyak orang untuk melihat perubahan iklim sebagai masalah generasi berikutnya, sesuatu yang relevan bagi cucu-cucu kita kelak, padahal data dan pengalaman nyata jutaan warga Indonesia menunjukkan bahwa krisis itu sudah berjalan dan sudah memakan korban hari ini.
Pak Suryo, sang petani dari Klaten tadi, sudah memutuskan untuk mengirim dua anaknya ke kota karena ia tidak lagi yakin bahwa bertani di desa bisa memberi kehidupan yang stabil bagi keluarganya di tengah ketidakpastian iklim yang semakin sulit dikendalikan dari tahun ke tahun.
Migrasi dari desa ke kota yang didorong oleh tekanan iklim adalah salah satu dampak sosial terbesar dari krisis ini, dan Indonesia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa yang sebagian besarnya masih bergantung pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, berada di garis terdepan dari gelombang perubahan itu.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur untuk kita renungkan bersama bukan lagi tentang apakah perubahan iklim itu nyata atau tidak, karena sawah Pak Suryo dan jalanan Penjaringan yang tergenang sudah menjawabnya, melainkan tentang seberapa cepat kita bersedia mengubah cara kita hidup sebelum alam memaksa kita untuk melakukannya dengan cara yang jauh lebih menyakitkan dan tidak kita pilih sendiri.











Komentar